Benalla, dan Ingatan Tentang Rumah

Ada yang bilang, kita harus pergi jauh sesekali untuk tahu rasanya pulang.

Foto: Koleksi penulis

Saya pikir pernyataan itu bisa dibenarkan. Atau setidaknya itu yang saya rasakan selama melarikan diri ke sebuah kota di sebelah Timur negara bagian Victoria, Australia ini.

Hari sudah gelap ketika saya menginjakkan kaki di kota berjuluk The City Of Rose. Saya dan Navika memutuskan untuk meneruskan perjalanan dari Adelaide menuju Benalla. Navika pulang ke rumahnya, sedang saya melakukan kunjungan balasan. Meski kota kecil, cerita tentang kota ini terdengar besar di telinga saya. Lebih dari tiga kali berturut-turut Language Assistant Program mengirimkan guru Bahasa Indonesia ke Benalla. Iya, pada kota yang berjarak ribuan kilometer dari Indonesia ini, banyak kisah baik tentang rumah saya, Indonesia, berpindah dari satu telinga ke telinga lainnya. Saya penasaran.

Foto: koleksi penulis

Dengan menaiki taksi lokal kami menuju rumah Ibu Jossie, hostfam Navika. Benalla pukul tujuh ternyata sudah tertidur. Suara binatang malam terdengar bersahutan. Pohon-pohon mapple rindang memeluk jalan dengan penerangan remang-remang. Sekilas Benalla yang sunyi ini tampak tidak berbeda dengan desa nenek saya di Cilacap malam hari. Bedanya, disana tidak ada taksi yang memutar lagu lawas milik Frank Sinatra, hanya ada becak atau ojek pangkalan.

Dingin hawa musim gugur cukup menyentil lemak-lemak di sekujur tubuh. Udara malam bercampur wangi dedaunan gugur langsung berebutan menyergap hidung, Taksi kami berhenti di depan rumah dengan taman yang indah.

“Tunggu besok pagi, tamannya bakal keliatan lebih cantik”, Navika tiba-tba berseloroh seperti mampu membaca pikiran saya.

Memasuki ruangan utama, saya tertegun sesaat, banyak ornamen budaya Indonesia dimana-mana. Taplak meja batik, patung bali, beberapa majalah dan wayang-wayang Indonesia. Saya sebagai orang Indonesia saja tidak memiliki banyak hiasan rumah yang Indonesia banget. Sambil beerdecak kagum, saya masih terus mengikuti Navika hingga ujung rumah. Kamarnya besar dan berdekatan dengan balkon belakang.

Bertemu dengan pak terry dan ibu jossie

Paginya saya disodori es krim nanas sebagai ucapan selamat datang. Kami makan di halaman belakang sambil melihat jemuran estetis. Seketika hati saya lumer seperti badan saya ditengah cuaca siang itu yang panas bukan main. Ada fakta yang menarik tentang musim peralihan di Melbourne dan sekitarnya. Seperti cotohnya Autumn, musim peralihan Summer ke Winter. Di musim ini perubahan cuaca bisa ekstrim dan tiba-tiba. Jika semalam dingin sekali, maka pagi ini bisa saja disambut dengan teriknya matahari.

Mendekati pukul 12 siang, aroma sedap datang dari dapur. Pak Terry rupanya sudah mulai beraksi. Menurut kabar yang saya dengar, dia jago sekali memasak masakan Indonesia. Melengkapi istrinya, Ibu Jossie yang seorang guru Bahasa Indonesia. Pak Terry ini tidak banyak bicara, selama makan es krim tadi, hanya suara Ibu Jossie, navika dan saya yang berebut panggung. Suara Pak Terry hanya terdengar sesekali ketika tertawa. Kami menyusul ke dapur dan takjub melihat potongan ayam yang sudah berlumur bumbu kuning seperti warung pinggir jalan di Indonesia. Di atas meja, tersusun buku-buku resep masakan Indonesia.

“Maybe the taste won’t exactly the same like chicken in warong” kalimat panjang itu keluar dari bibir Pak Terry untuk pertama kalinya.

Saya tersenyum. Sosoknya mengingatkan saya pada Carl di film Up. Iya, film favorit sebagian orang. Yang kisah romansanya bisa lebih manis menurut saya jika adegan pergulatan dengan anjing robot dan tetek bengeknya itu diganti dengan pergulatan yang lebih masuk akal. Pak Terry adalah Carl, si pendiam, penyabar dan penyayang. Sedang Ibu Jossie adalah Ellie, si sociobutterfly, si periang yang rusuh namun selalu menjadi inspirasi keberanian Carl untuk menghadapi hidupnya. Melihat keduanya, saya iri.

Di meja makan, kini sudah ada ayam bakar lengkap dengan sayur kari dan nasi putih. Nasi putihnya pun dihidangkan diatas langseng berlubang kecil mirip seperti di rumah-rumah di Indonesia.

“Welcome to Benalla, Nisa” Pak Terry memberikan sambutan resmi di depan ayam goreng dan sayur kari. Saya terkekeh. Selanjutnya dia menyampaikan rasa senangnya karena saya sudah berkunjung. Katanya juga, welcoming food darinya siang itu sebentuk rasa bahagia dan bangganya bisa mempelajari makanan Indonesia yang lezat semua.

Deg! Saya terhenyak!

Benar kata orang, kita harus pergi jauh sesekali untuk tahu rasanya pulang. Siang ini seketika saya ingat rumah. Honeymoon period selama menjejekan kaki di negeri asing seketika luruh. Saya ingat negeri yang selalu saya banding-bandingkan. Yang setiap harinya selalu tidak pernah luput dari umpatan-umpatan. Diam-diam hati saya basah. Di sela-sela ayam goreng yang rasanya kalah enak dengan ayam goreng warung minyak hitam itu, saya merutuki diri sendiri.

Saya jadi teringat mama ana, seorang nenek asal Lucerne-Switzerland yang menjadi teman duduk saya di travel sekitar tahun 2013. Pada percakapan kala itu dia mengingatkan saya tentang rumah,

“If you ask me about going home, I don’t wanna go home, this is my Home, Indonesia. But if you ask me about going back, maybe someday I’ll be back to Lucerne, just for vacation, as a tourist…”

Apapun yang kita lakukan sebagai orang Indonesia, maka itulah gambaran tentang negeri ini. Saya yang hobi mengkritik ini, bisa jadi merupakan gambaran orang Indonesia yang bisanya OMDO alias OMONG DOANG. Teman saya yang hobi pakai brand-brand luar negeri, bisa jadi mencerminkan bahwa brand-brand Indonesia benar-benar tidak bermutu, mereka yang lebih suka nonton film luar negeri, bisa jadi sedang mematikan industri film Indonesia itu sendiri. Dan perilaku-perilaku lainnya yang makin mendefinisikan INDONESIA yang a country of nowhere. Deep sight…saya ngeri membayangkannya.

Dan hari ini, ribuan kilometer duduk terpisah dari tanah air, saya mendengar kembali, satu pujian yang akan saya simpan dengan baik sebagai pengingat. Rasanya tidak sabar hari senin, bertemu dengan para murid dan memperkenalkan lebih banyak lagi tentang rumah saya, Indonesia.

Pak Terry dan Ibu Jossie

Published by

Nissadianty

BookWorm | TalkAtive | Love Photography | FamilyGirl | KnowledgeAddict | TravellingFreak

One thought on “Benalla, dan Ingatan Tentang Rumah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s