Mabuhay, Filipina!

Saya harus jatuh cinta. Dimanapun tempat saya menjejakkan kaki, saya selalu menciptakan rumah baru disana. Iya, termasuk di negara yang tidak masuk dalam daftar kunjung ini. Iya, saya akan segera jatuh cinta padanya.

Sebelumnya saya mau tanya, pernah punya keinginan liburan ke Filipina? Atau sekedar jalan-jalan ke negara yang menjadi tetangga dekatnya Pulau Sulawesi ini? Ya, pasti ada yang jawab iya ada, tapi bisa ditebak deh, sebagian mungkin bertanya balik, disana ada apa sih?

Saya adalah orang yang kedua. Ketika mendapat tugas* dari Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) Kemendikbud awal april lalu, saya tercenung. Filipina ya? Disana ada apa memang? Pengetahuan saya soal filipina hanya sebatas si penyanyi ganteng Christian Bautista itu saja lho. Tidak banyak. Continue reading

Advertisements

Menikam.

image Setiap kali aku berusaha untuk tidak berbicara padamu lagi, aku harus menikam satu sisi dada ini. Perih. Karena sesungguhnya aku tidak pernah sanggup melakukannya.

Berkejaran

image

Dini hari ini, aku melihat bulatannya tampak sempurna. Menyinar jalanan panjang yang lengang. Di balik kaca jendela mobil vios yang melaju cepat aku melihat pantulan cahayanya. Berkejaran dengan lampu-lampu mobil kanan kiriku. Sebentar, mungkin bukan cahaya-cahaya itu yang berkejaran. Tapi aku. Hatiku yang berkejaran.
Pernahkah kau merasa kehilangan meski tak memiliki?
Kembali kuulang lagi pertanyaan itu. Semoga itu tak jadi mantra.
Aku menatapi kaca mobil yang tampak buram. Ada pantulan wajahku disana. Pantulan sayu. Pantulan yang sama 3 tahun yang lalu.
Ini kali ketiga aku mundur dari peperangan, Tuhan. Menahan dan menghilang pelan-pelan.
Tak perlu lagi ditanya rasanya.
Ia tak lagi sakit,
Namun perih.

Kulempar lagi mata pandang keluar jendela. Masih gelap pukul lima. Plato benar, tidak ada gelap, yang ada hanya kekurangan cahaya. Ya, mungkin aku mulai meredup. Pada cinta. Pada kepercayaan. Pada perasaan yang tak lagi mampu kupercaya.
Cahaya bulan masih tampak sempurna, mengiringi hatiku yang berkejaran. Berkejaran menujunya. Berusaha mencapai garis akhir meski tertatih sudah.

“kau tak mengenalku”
Ya, sejak kau tutup segala pintu itu, aku tidak pernah mengenalmu sama sekali.

(padamu, yang mengajarkanku bahwa hidup adalah drama terbaik yang harus kunikmati)

Doa pagi

image

Hai,
Aku belum ingin menyerah.
Hanya saja, merapat padamu selalu menghilangkan setengah kepercayaan diri yang kupunya.
Hai kamu,
Aku belum mau berhenti jatuh hati,
namun dayaku tak mampu mendekat padamu meski sejengkal, apalagi sehasta.
Aku yang tak pernah berani melangkah lebih dekat padamu.
Aku yang melangkah jauh,
Menepi,
dan berdoa saja pada sang maha segala.

Semoga kau juga segera cinta.

Rapalan harap.

image

Pada hening yang paling hening.
Pada diam yang paling diam.
Pada dalam yang lebih dalam.
Pada ketidakberdayaan.
Pada rasa bahagia.
Pada harapan yang sering tak sederhana.
Pada kesombongan.
Pada ingkar yang berpendar.
Pada dosa yang tak terhitung angka.
Pada ketaatan yang sering hilang.
PadaMu,
Tetap ku kembali.

Semoga tak lepas cinta ini padaMu.
Kumohon.

Padamu yang membaikkan hati

image

Untuk kau yang membaikkan hati. Semoga perasaan ini tidak hanya soal cepat atau lambat, tidak hanya seberapa lama mengenal, seberapa jauh tahu. Tapi seberapa percaya aku pada gerak hati yang Tuhan berikan.
Padamu aku belajar tak memaksa, belajar jatuh hati dan bersiap jika tak memiliki. Padamu aku tahu menjaga yang patut,berharap yang sederhana, belajar percaya bahwa Tuhan lebih dari sekedar tahu. Iya, padamu aku belajar berlayar pada takdir baik yang akan Tuhan berikan. Terimakasih telah membuatku jatuh hati.

Dialog jelang petang

image

Tuhan,
Kau yang paling satu-satunya tahu apa yang menjadi dialog panjangku,
Pada rasa takutku,
Pada kegamanganku,
Pada ketidaksempurnaan yang selalu membuatku pindah berlangkah-langkah.

Tuhan,
Kau yang paling satu-satunya memahami sebelum aku mendefinisi gelisah ini,
Kau yang paling satu-satunya disana menjaga harap-harap bisuku,

Iya, Tuhan,
Kaulah yang seutuhnya menjaga ia,
Sebuah janji genap untukku,
Dalam kerahasiaan,
Yang akan mewujud di dunia
Atau
Akhirat nanti.

Sesabar itu aku menanti,
Karena tak ada janji yang bi sa sesempurna milikMu.

Menjadi diriku

image

Susan (foto: koleksi penulis)

Apakah kita cukup pandai untuk menjadi diri sendiri?
Melangkah tanpa mengindahkan apa-apa yang menjadi harapan orang lain.
Bergerak meski tak banyak yang mengapresiasi.
Atau memang kita hidup dengan pengharapan orang lain?
bertindak, tertawa, bersedih, terluka, kecewa, bahagia…
Iya, mungkin.

Dewasa.

Banyak yang bilang menjadi dewasa itu tidak sederhana. Bagi saya dewasa hanyalah soal mencoba berhenti untuk hanya berpikir tentang diri sendiri seorang saja. Mulai mencoba melihat keberadaan orang lain, tidak hanya melihat keberadaan diri sendiri saja. Dan mungkin itu tidaklah serumit yang coba kita pikirkan selama ini. Karena pendewasaan adalah proses yang mungkin akan kita jalani seumur hidup, maka berhentilah berpikir bahwa diri kita lebih dewasa dari diri orang lain.  Manusia dewasa akan mampu menjadi besar tanpa membesar-besarkan masalah. Manusia dewasa akan mampu menjadi besar tanpa hobi mengecilkan hidup orang lain.

Mungkin beberapa orang ada yang begitu beruntung seperti saya, karena pernah mengalami kehilangan dan beberapa kekecewaan besar. Pernah dibohongi dan dilukai yang tidak sederhana. Sehingga kami mampu menemukan lebih awal; bahwa hidup memang tidak diciptakan untuk mereka yang pandai mengeluh, yang hobi marah, yang dengan mudahnya meninggalkan kekecewaan dihati orang lain, dan suka menyepelekan luka yang pernah dijalani seseorang.

(Menemukan tulisan ini dan seketika terhenyak)